Hadis 36. Adab Muslim sesama Muslim Atau Mu’min sesama Mu’min


عَنِ الْبَرَاءِ – رضى الله عنه – قَالَ أَمَرَنَا النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِسَبْعٍ ، وَنَهَانَا عَنْ سَبْعٍ ، أَمَرَنَا بِعِيَادَةِ الْمَرِيضِ ، وَاتِّبَاعِ الْجِنَازَةِ ، وَتَشْمِيتِ الْعَاطِسِ ، وَإِجَابَةِ الدَّاعِى ، وَرَدِّ السَّلاَمِ ، وَنَصْرِ الْمَظْلُومِ ، وَإِبْرَارِ الْمُقْسِمِ، وَنَهَانَا عَنْ سَبْعٍ ، عَنْ خَاتَمِ الذَّهَبِ – أَوْ قَالَ حَلْقَةِ الذَّهَبِ – وَعَنْ لُبْسِ الْحَرِيرِ ، وَالدِّيبَاجِ، وَالسُّنْدُسِ ، وَالْمَيَاثِرِ ( رواه الترمذي : ٦٢٢٢)

hadis dari Al Barra` radliallahu ‘anhu dia berkata: “Nabi SAW memerintahkan kami tujuh perkara dan melarang tujuh perkara, beliau memerintahkan menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, mendo’akan orang yang bersin, memenuhi undangan, menjawab salam dan menolong orang yang terzhalimi serta melaksanakan sumpah, dan beliau melarang tujuh perkara, yaitu: mengenakan cincin emas, atau bersabda: kalung emas, mengenakan sutera, dibaj (sejenis sutera), Sundus (kain yang terbuat dari sutera) dan mayasir (mantel yang bertutup kepala yang terbuat dari sutera. (HR. al-Turmudzi: 6222)

adis yang diriwayatkan oleh al-Bara’ bin ‘Azib ini memuat tujuh perintah dan tujuh larangan dari Rasulullah SAW yang menjadi pedoman dalam kehidupan sosial dan berpakaian. Perintah tersebut meliputi menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang bersin, menjawab undangan, membalas salam, menolong orang yang dizalimi, dan menepati janji—semuanya menunjukkan pentingnya kepedulian dan tanggung jawab sosial. Sementara itu, larangan yang disebutkan berhubungan dengan pemakaian emas dan kain sutra bagi laki-laki, serta jenis pakaian mewah lainnya, sebagai bentuk penghindaran dari sikap berlebih-lebihan dan kemewahan yang tidak sesuai dengan prinsip kesederhanaan dalam Islam. Hadis ini menegaskan adab dalam bermasyarakat serta batasan dalam penampilan yang sesuai dengan ajaran Islam.