Hadis 12. Adab ketika Marah


عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ صُرَدٍ قَالَ اسْتَبَّ رَجُلاَنِ عِنْدَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَجَعَلَ أَحَدُهُمَا تَحْمَرُّ عَيْنَاهُ وَتَنْتَفِخُ أَوْدَاجُهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنِّى لأَعْرِفُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ الَّذِى يَجِدُ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ». فَقَالَ الرَّجُلُ وَهَلْ تَرَى بِى مِنْ جُنُونٍ قَالَ ابْنُ الْعَلاَءِ فَقَالَ وَهَلْ تَرَى. وَلَمْ يَذْكُرِ الرَّجُلَ ( رواه مسلم : ٦٨١٢)

hadis dari Sulaiman bin Shurad, ia berkata: Pernah dua orang laki-laki saling mencaci di hadapan Nabi SAW. Salah satu dari keduanya tampak memerah kedua matanya dan urat lehernya menegang karena marah. Maka Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimat, jika dia mengucapkannya, niscaya akan hilang darinya apa yang ia rasakan (yaitu amarah). (Kalimat itu adalah): ‘A‘ūdzu billāhi mina asy-syaithāni ar-rajīm’ (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk).” Lalu laki-laki itu berkata, “Apakah engkau melihat ada kegilaan pada diriku?”

Ibnu Al-‘Ala berkata: Ia berkata, “Apakah engkau melihat (ada sesuatu)?” dan tidak menyebutkan (kata) ‘laki-laki’. (HR. Muslim: 6812)

Hadis ini menekankan pentingnya mengendalikan emosi, khususnya ketika marah, dengan cara mengingat Allah. Ketika Nabi SAW melihat seseorang marah dengan tanda-tanda fisik yang jelas, beliau menyarankan untuk mengucapkan, “A’udzu billahi min ash-shaytan ir-rajim,” sebagai cara meredakan amarah yang diyakini berasal dari godaan syaitan. Hal ini menunjukkan bahwa kemarahan bukan hanya respons emosional, tetapi juga bisa menjadi pintu masuk bisikan syaitan, dan cara terbaik mengatasinya adalah dengan memohon perlindungan kepada Allah. Nabi SAW juga menunjukkan kelembutan dalam menyampaikan nasihat, mengajarkan kita untuk merespons kemarahan dengan ketenangan dan kebijaksanaan.