حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ حُمَيْدٍ الطَّوِيلِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كُنَّا نُسَافِرُ مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَلَمْ يَعِبِ الصَّائِمُ عَلَى الْمُفْطِرِ ، وَلاَ الْمُفْطِرُ عَلَى الصَّائِمِ.( رواه البخاري )
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Humaid Ath Thawil dari Anas bin Malik berkata: Kami pernah bepergian bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang berpuasa tidak mencela yang berbuka dan yang berbuka juga tidak mencela yang berpuasa. ( H.R Al – Bukhari )
Hadits ini menjelaskan bahwa ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bepergian bersama para sahabat, ada beberapa orang yang sedang berpuasa dan ada pula yang memilih untuk berbuka. Dalam situasi tersebut, Nabi mengajarkan adab yang baik, yaitu orang yang berpuasa tidak mencela orang yang berbuka, dan orang yang berbuka juga tidak mencela orang yang berpuasa. Ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki alasan dan kondisi yang berbeda, dan kita harus saling menghormati pilihan masing-masing tanpa mengkritik atau mencela. Kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, hadits ini mengajarkan kita tentang pentingnya saling menghargai dan menjaga adab, terutama ketika kita berbeda pendapat atau pilihan dengan orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita dihadapkan pada situasi di mana orang memiliki pandangan atau keputusan yang berbeda, misalnya dalam hal ibadah, pola makan, atau kebiasaan sehari-hari. Hadits ini mengingatkan kita untuk tidak menghakimi atau mencela orang lain atas pilihan mereka, melainkan saling menghormati.