Hilal bukti awal dan akhir ramadhan


حَدَّثَنَا أَبُو مَرْوَانَ الْعُثْمَانِىُّ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنِ الزُّهْرِىِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا رَأَيْتُمُ الْهِلاَلَ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَصُومُوا ثَلاَثِينَ يَوْمًا) .رواه ابن ماجه)

Telah menceritakan kepada kami Abu Marwan Al Utsmani berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d dari Az Zuhri dari Sa’id Ibnul Musayyab dari Abu Hurairah ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika kalian melihat hilal maka berpuasalah, dan jika kalian melihat hilal maka berpuasalah. Dan jika tidak terlihat oleh kalian maka berpuasalah tiga puluh hari (H.R Ibnu Majah )

Hadits ini menjelaskan tentang cara menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa jika kita melihat hilal (bulan sabit) yang menandakan datangnya bulan Ramadhan, maka kita mulai berpuasa pada hari itu. Begitu juga, jika kita melihat hilal di akhir Ramadhan untuk menandakan datangnya Syawal, kita berbuka puasa pada hari itu. Namun, jika hilal tidak terlihat, maka kita diperintahkan untuk menyempurnakan puasa kita selama 30 hari. Ini berarti, jika tidak dapat dipastikan secara visual bahwa bulan Ramadhan telah dimulai, kita tetap melanjutkan puasa hingga mencapai 30 hari penuh, sebagai bentuk kepatuhan terhadap ketentuan waktu yang ditetapkan.