Hilal pertanda awal ramadhan


حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي سَالِمٌ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ ٱللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: (إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ). وَقَالَ غَيْرُهُ عَنِ اللَّيْثِ: حَدَّثَنِي عُقَيْلٌ وَيُونُسُ لِهِلَالِ رَمَضَانَ. (رَوَاهُ ٱلْبُخَارِي)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata: telah menceritakan kepada saya Al Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihab berkata: telah mengabarkan kepada saya Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa Ibnu ‘Umar radliyallahu ‘anhuma berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Jika kamu melihatnya maka berpuasalah dan jika kamu melihatnya lagi maka berbukalah. Apabila kalian terhalang oleh awan maka perkirakanlah jumlahnya (jumlah hari disempurnakan). Dan berkata selainnya dari Al Laits telah menceritakan kepada saya ‘Uqail dan Yunus: “Ini maksudnya untuk hilal bulan Ramadhan. ( H.R Al – Bukhari ).

 

Hadits ini menjelaskan tentang cara penetapan awal dan akhir bulan Ramadhan, yaitu dengan melihat hilal (bulan sabit pertama) secara langsung. Rasulullah mengajarkan bahwa puasa Ramadhan dimulai ketika hilal terlihat, dan diakhiri (berbuka untuk masuk Syawal) juga ketika hilal bulan Syawal terlihat. Namun, jika langit tertutup awan atau tidak memungkinkan untuk melihat hilal, maka bulan Sya’ban atau Ramadhan disempurnakan menjadi 30 hari. Kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, hadits ini mengajarkan pentingnya ketelitian, kebersamaan, dan ketaatan dalam menjalankan ibadah. Di masyarakat kita, penetapan awal Ramadhan dan Idul Fitri sering kali menjadi momen penting yang dinantikan. Hadits ini menjadi dasar utama dalam penentuan hari-hari tersebut, yang biasanya dilakukan oleh otoritas resmi seperti Kementerian Agama atau lembaga rukyatul hilal.

Dalam praktiknya, hadits ini juga mengajarkan kita untuk bersikap bijak dan tidak mudah berselisih ketika ada perbedaan penetapan awal puasa atau lebaran. Inti dari ajaran ini adalah mengikuti petunjuk yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan, serta tetap menjaga ukhuwah (persaudaraan) di tengah perbedaan. Layaknya dalam kehidupan sehari-hari, kita diajarkan untuk membuat keputusan berdasarkan bukti yang jelas. Jika tidak ada kejelasan, maka kita mengambil langkah aman—seperti menyempurnakan jumlah hari dalam kalender hijriyah menjadi 30.