Anjuran iktikaf 10 hari terakhir ramadhan Title


حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ عَنْ أَبِى حَصِينٍ عَنْ أَبِى صَالِحٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا. (رواه البخاري )

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami Malik dari Nafi’ dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang bulan Ramadhan lalu Beliau bersabda: “Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilal dan jangan pula kalian berbuka hingga kalian melihatnya. Apabila kalian terhalang oleh awan maka perkirakanlah jumlahnya / jumlah hari disempurnakan. ( H.R Al – Bukhari )

Hadis ini menjelaskan tentang cara menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan dalam ajaran Islam. Hadis ini mengajarkan bahwa awal puasa Ramadhan dan akhir (hari Idul Fitri) ditentukan dengan melihat hilal, yaitu bulan sabit tipis yang menandakan masuknya bulan baru dalam kalender Hijriyah. Jika cuaca mendung atau hilal tidak terlihat, maka kita tidak memaksa melihatnya, tetapi menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi 30 hari, dan begitu juga Ramadhan disempurnakan 30 hari jika hilal Syawal tidak terlihat. Ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan metode yang sederhana, praktis, dan tidak memberatkan, serta sesuai dengan kemampuan umat manusia.