حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْمَرْوَزِىُّ حَدَّثَنِى عَلِىُّ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ وَاقِدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ يَزِيدَ النَّحْوِىِّ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ (لاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ) فَكَانَ الرَّجُلُ يُحْرَجُ أَنْ يَأْكُلَ عِنْدَ أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ بَعْدَ مَا نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ فَنَسَخَ ذَلِكَ الآيَةُ الَّتِى فِى النُّورِ قَالَ (لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ) (أَنْ تَأْكُلُوا مِنْ بُيُوتِكُمْ) إِلَى قَوْلِهِ ( أَشْتَاتًا) كَانَ الرَّجُلُ الْغَنِىُّ يَدْعُو الرَّجُلَ مِنْ أَهْلِهِ إِلَى الطَّعَامِ قَالَ إِنِّى لأَجَّنَّحُ أَنْ آكُلَ مِنْهُ. وَالتَّجَنُّحُ الْحَرَجُ وَيَقُولُ الْمِسْكِينُ أَحَقُّ بِهِ مِنِّى. فَأُحِلَّ فِى ذَلِكَ أَنْ يَأْكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَأُحِلَّ طَعَامُ أَهْلِ الْكِتَابِ
.( رواه سنن أبى داود: 3755)
hadis dari ibnu ‘Abbas berkata: “(Firman Allah): ‘Janganlah kalian memakan harta kalian di antara kalian dengan cara yang batil, kecuali jika itu berupa perdagangan yang dilakukan atas dasar saling ridha di antara kalian’ (QS. An-Nisa: 29). Maka setelah ayat ini turun, seseorang menjadi sungkan (merasa tidak enak) untuk makan di rumah orang lain. Lalu ayat tersebut di-nasakh (dihapus hukumnya) oleh ayat yang terdapat dalam surah An-Nur, yakni firman Allah: _’Tidak ada dosa atas kalian untuk makan di rumah kalian…’ sampai pada firman-Nya: ‘secara berkelompok atau sendiri-sendiri’ (QS. An-Nur: 61). Dahulu, seorang yang kaya mengundang salah satu kerabatnya untuk makan, lalu yang diundang berkata: ‘Aku merasa sungkan untuk makan darinya.’ (Dalam kalimat lain:) Sungguh aku merasa sungkan (dalam bahasa Arab: atajannahu) untuk makan dari makanan itu, dan ia berkata: ‘Orang miskin lebih berhak atas makanan ini daripada aku.’ Maka (melalui ayat tadi), dihalalkan bagi mereka untuk makan dari makanan yang disebut nama Allah atasnya, dan dihalalkan pula makanan Ahli Kitab.(HR. Abu Daud: 3755)
Hadis ini menjelaskan bahwa larangan memakan harta dengan cara yang batil membuat sebagian orang sungkan makan di rumah kerabat, hingga turun ayat yang membolehkan makan selama atas dasar kerelaan dan bukan cara haram. Ini menunjukkan pentingnya menjaga kehalalan harta dan makanan, serta larangan mengambil atau memakan sesuatu tanpa izin atau ridha