Rasulullah Mengusap Sepatu saat Wudhu


وَحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِىُّ أَخْبَرَنَا أَبُو الأَحْوَصِ عَنْ أَشْعَثَ عَنِ الأَسْوَدِ بْنِ هِلاَلٍ عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ بَيْنَا أَنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ لَيْلَةٍ إِذْ نَزَلَ فَقَضَى حَاجَتَهُ ثُمَّ جَاءَ فَصَبَبْتُ عَلَيْهِ مِنْ إِدَاوَةٍ كَانَتْ مَعِى فَتَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ

(رواه مسلم: ٦٥١)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya at-Tamimi, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Al-Ahwas dari Asy’ats dari Al-Aswad bin Hilal dari Al-Mughirah bin Syu’bah, ia berkata:”Aku pernah bersama Rasulullah ﷺ pada suatu malam, lalu beliau turun (dari kendaraannya) dan menunaikan hajatnya. Kemudian beliau kembali, maka aku menuangkan air dari tempat air (idaawah) yang ada padaku, lalu beliau berwudhu dan mengusap kedua khuf (sepatu kulit) beliau.” [HR. Muslim no. 651]

Hadis ini menjelaskan bahwa menceritakan tentang suatu peristiwa yang terjadi pada malam hari ketika Al-Mughirah bersama Rasulullah ﷺ. Dalam kisah ini, Rasulullah ﷺ turun untuk menunaikan hajat (buang air), kemudian kembali. Setelah itu, Al-Mughirah menuangkan air dari bejana kecil (idaawah) yang ia bawa, dan Rasulullah ﷺ berwudhu. Dalam proses wudhu tersebut, beliau ﷺ menyapu (mengusap) di atas khuf (sepatu kulit) yang beliau pakai, bukan membasuh kakinya secara langsung. Hadis ini menjadi salah satu dasar diperbolehkannya mengusap khuf saat berwudhu, selama telah memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan, dan menunjukkan kemudahan (rukhsah) dalam syariat Islam dalam urusan thaharah (bersuci).