عَنْ سُفْيَانَ قَالَ حَدَّثَنِى عَلْقَمَةُ بْنُ مَرْثَدٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- صَلَّى الصَّلَوَاتِ يَوْمَ الْفَتْحِ بِوُضُوءٍ وَاحِدٍ وَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ لَقَدْ صَنَعْتَ الْيَوْمَ شَيْئًا لَمْ تَكُنْ تَصْنَعُهُ. قَالَ « عَمْدًا صَنَعْتُهُ يَا عُمَر ( رواه مسلم: ٦٦٤)
Diriwayatkan dari Sulaiman bin Buraidah, dari ayahnya (Buraidah) bahwa:”Nabi ﷺ melaksanakan salat-salat pada hari Fathu Makkah dengan satu wudhu saja, dan beliau mengusap di atas kedua khuf-nya (sepatu kulit).”Maka Umar berkata kepadanya, “Hari ini engkau melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya?”Beliau menjawab, “Sengaja aku melakukannya, wahai Umar.”[HR. Muslim no. 664]
Hadis ini menjelaskan bahwa Hadis ini menceritakan peristiwa yang terjadi pada hari Pembukaan Kota Mekah (Fathu Makkah), di mana Nabi Muhammad ﷺ melaksanakan seluruh solat pada hari tersebut dengan satu kali wudhu saja. Dalam pelaksanaan wudhunya, beliau juga melakukan usap (masah) di atas khuf (sepatu atau alas kaki kulit yang menutupi mata kaki), sebagai bagian dari keringanan dalam bersuci. Perbuatan ini menarik perhatian Umar ibn al-Khattab r.a., yang kemudian berkata kepada Nabi ﷺ bahwa beliau telah melakukan sesuatu yang tidak biasa beliau lakukan sebelumnya. Menanggapi hal itu, Nabi ﷺ menjawab dengan tegas bahwa perbuatan tersebut dilakukan dengan sengaja, sebagai bentuk penegasan atau mungkin untuk memberi contoh kepada umat tentang kelonggaran (rukhshah) yang dibolehkan dalam syariat Islam, terutama dalam keadaan tertentu seperti perjalanan atau saat sibuk dalam urusan penting.