Hadis 25. Yang Menerima Sedekah Mewariskan Sedekahnya


عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم إِذْ أَتَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى كُنْتُ تَصَدَّقْتُ عَلَى أُمِّى بِجَارِيَةٍ وَإِنَّهَا مَاتَتْ. قَالَ « وَجَبَ أَجْرُكِ وَرَدَّهَا عَلَيْكِ الْمِيرَاثُ ». قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهَا كَانَ عَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ أَفَأَصُومُ عَنْهَا قَالَ « صُومِى عَنْهَا ». قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهَا لَمْ تَحُجَّ قَطُّ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ حُجِّى عَنْهَا ».

(رواه الترمذي: ٦٦٩).

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَلاَ يُعْرَفُ هَذَا مِنْ حَدِيثِ بُرَيْدَةَ إِلاَّ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ. وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَطَاءٍ ثِقَةٌ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيثِ. وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الرَّجُلَ إِذَا تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ ثُمَّ وَرِثَهَا حَلَّتْ لَهُ. وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّمَا الصَّدَقَةُ شَىْءٌ جَعَلَهَا لِلَّهِ فَإِذَا وَرِثَهَا فَيَجِبُ أَنْ يَصْرِفَهَا فِى مِثْلِهِ. وَرَوَى سُفْيَانُ الثَّوْرِىُّ وَزُهَيْرُ بْنُ مُعَاوِيَةَ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَطَاءٍ.

Hadis dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya ia berkata: ketika saya duduk-duduk bersama Nabi SAW, datanglah seorang wanita seraya berkata: wahai Rasulullah, sesungguhnya saya pernah bersedekah kepada ibuku dengan seorang budak wanita namun beliau meninggal sebelum saya berikan kepadanya, ia bersabda: “kamu tetap mendapatkan pahala dan budaknya menjadi milikmu sebagai harta warisan.” Dia (wanita) berkata lagi, wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku masih memiliki kewajiban untuk berpuasa, apakah saya boleh mewakilinya berpuasa? ia menjawab: “berpuasalah untuknya, ia bertanya lagi, wahai Rasulullah, sesungguhnya ia belum berhaji sama sekali, apakah saya boleh mewakilinya berhaji? Ia menjawab: “berhajilah untuknya.”

(HR al-Tirmidzi: 669).

Abu ‘Isa berkata: ini adalah hadis hasan shahih, hadis ini tidak diriwayatkan dari Buraidah kecuali melalui sanad ini. Abdullah bin ‘Atha’ seorang yang tsiqah menurut ahlul hadis, dan para ulama pun mengamalkan hadis ini, yaitu, jika seseorang bersedekah kemudian mewarisinya maka hukumnya boleh. Sebagian ulama berpendapat, Sesungguhnya sedekah itu harta yang menjadi milik Allah jika dia mewariasinya hendaknya harta tersebut diinfakkan kembali. Sufyan al-Tsauri dan Zuhair meriwayatkan hadis ini dari ‘Abdullah bin Atha’.

Hadis ini menjelaskan bahwa islam mengajarkan kepada kita bahwa amalan-amalan baik yang dilakukan oleh orang yang masih hidup atas nama orang yang telah meninggal dunia akan bermanfaat bagi si mayit.  Amalan tersebut mencakup menggantikan puasa, melaksanakan haji badal, dan memberikan sedekah. Semua amalan ini merupakan bentuk bakti dan kasih sayang kita kepada orang tua dan kerabat yang telah mendahului kita.