عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « لاَ تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِىٍّ إِلاَّ لِخَمْسَةٍ لِعَامِلٍ عَلَيْهَا أَوْ لِغَازٍ فِى سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ لِغَنِىٍّ اشْتَرَاهَا بِمَالِهِ أَوْ فَقِيرٍ تُصُدِّقَ عَلَيْهِ فَأَهْدَاهَا لِغَنِىٍّ أَوْ غَارِمٍ ».
(رواه إبن ماجه: ١٩١٤).
Hadis dari Abu Sa’id al-Khudri ia berkata: “Rasulullah SAW, ia berkata: “sedekah tidak halal untuk dimiliki oleh orang-orang yang berkecukupan kecuali untuk lima orang: amilnya, orang yang berjihad di jalan Allah, orang kaya tapi ia dapat dengan jalur lain (membeli/hadiah, seperti mahar dan lain-lain), orang miskin yang mendapatkan sedekah kemudian diberikan kepada orang kaya, dan orang yang terlilit”.
(HR Ibnu Majah: 1914).
Hadis ini menjelaskan bahwa pentingnya menjaga keadilan dan ketepatan dalam pemberian sedekah atau zakat agar tidak diberikan kepada orang yang sebenarnya mampu kecuali dalam kondisi tertentu yang dibenarkan syariat.