Hadis 31. Sedekah untuk Ahli Dzimmah


حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَسْمَاءَ قَالَتْ قَدِمَتْ عَلَىَّ أُمِّى رَاغِبَةً فِى عَهْدِ قُرَيْشٍ وَهِىَ رَاغِمَةٌ مُشْرِكَةٌ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّى قَدِمَتْ عَلَىَّ وَهِىَ رَاغِمَةٌ مُشْرِكَةٌ أَفَأَصِلُهَا قَالَ « نَعَمْ فَصِلِى أُمَّكِ ».

(رواه  أبي داود: ١٦٧٠).

Hisyam bin ‘Urwah telah menceritakan kepada kami dari ayah Asma’, ia berkata: ibuku datang menemuiku saat perjanjian dengan Quraisy dalam keadaan mengharapkan baktiku, sementara ia membenci keislamanku dan ia adalah wanita musyrik. Lalu aku katakan: “wahai Rasulullah, sebenarnya ibuku datang menemuiku, sementara dia membenci keislamanku dan dia adalah wanita musyrik. Apakah aku boleh berhubungan dengannya?” Ia berkata: “ya, hubungilah ibumu.”

(HR Abu Dawud: 1670).

Hadis ini menjelaskan bahwa Islam mengajarkan toleransi dalam hubungan sosial dan keluarga, selama tidak berkaitan dengan dukungan terhadap kemusyrikan. Hadis ini menjadi dasar bolehnya membantu dan berbuat baik kepada non-Muslim, terutama orang tua kita ataupun kerabat dekat.