Hadis 21. Sedekah Istri dari Rumah Suaminya


عَنْ أَبِى أُمَامَةَ الْبَاهِلِىِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِى خُطْبَتِهِ عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ يَقُولُ « لاَ تُنْفِقُ امْرَأَةٌ شَيْئًا مِنْ بَيْتِ زَوْجِهَا إِلاَّ بِإِذْنِ زَوْجِهَا ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الطَّعَامُ قَالَ « ذَاكَ أَفْضَلُ أَمْوَالِنَا ».

(رواه الترمذي: ٦٧٢).

وَفِى الْبَابِ عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِى وَقَّاصٍ وَأَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِى بَكْرٍ وَأَبِى هُرَيْرَةَ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَعَائِشَةَ. قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِى أُمَامَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ.

Hadis dari Abu Umamah al-Bahili dia berkata: saya telah mendengar Rasulullah SAW dalam khutbahnya pada waktu haji wada’ ia berkata: “tidak boleh seorang wanita menginfakkan sesuatu dari rumah suaminya kecuali atas seizinnya.” Ia ditanya, termasuk makanan wahai Rasulullah? ia menjawab: “itu merupakan harta kami yang paling baik.”

(HR al-Tirmidzi: 672).

Dalam bab ini (ada juga riwayat) dari Sa’ad bin Abu Waqqash, Asma’ binti Abu Bakar, Abu Hurairah, Abdullah bin Amru dan ‘Aisyah. Abu ‘Isa berkata: hadis Abu Umamah merupakan hadis hasan.

Hadis ini menjelaskan bahwa seorang istri tidak boleh menginfakkan (menyedekahkan) harta suaminya tanpa izin, kecuali jika sudah terbiasa atau diketahui bahwa suaminya merelakannya. Ini menunjukkan penghormatan terhadap hak milik suami dalam rumah tangga. Namun, jika ada izin, baik secara tersurat (langsung) maupun tersirat (kebiasaan atau isyarat), maka diperbolehkan.