عَنْ أَبِى حَازِمٍ قَالَ كُنْتُ خَلْفَ أَبِى هُرَيْرَةَ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ فَكَانَ يَمُدُّ يَدَهُ حَتَّى تَبْلُغَ إِبْطَهُ فَقُلْتُ لَهُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ مَا هَذَا الْوُضُوءُ فَقَالَ يَا بَنِى فَرُّوخَ أَنْتُمْ هَا هُنَا لَوْ عَلِمْتُ أَنَّكُمْ هَا هُنَا مَا تَوَضَّأْتُ هَذَا الْوُضُوءَ سَمِعْتُ خَلِيلِى صلى الله عليه وسلم يَقُولُ «تَبْلُغُ الْحِلْيَةُ مِنَ الْمُؤْمِنِ حَيْثُ يَبْلُغُ الْوَضُوءُ » (رواه مسلم: ٦٠٩)
Artinya: hadis dari Abu Hazim dia berkata: “Saya di belakang Abu Hurairah saat dia sedang berwudhu’ untuk shalat. Dia memanjangkan tangannya hingga mencapai ketiaknya, maka saya berkata kepadanya, ‘Wahai Abu Hurairah, wudhu’ apaan ini? ‘ Dia menjawab, ‘Wahai bani Farrukh, kalian di sini, kalau saya tahu kalian di sini niscaya aku tidak akan berwudlu dengan (cara) wudlu ini. Saya mendengar kekasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perhiasan seorang mukmin adalah sejauh mana air wudlunya membasuh.” (HR. Muslim: 609)
Dalam hadis ini, Abu Hurairah melakukan wudhu secara menyeluruh hingga ke lengan atas, bahkan sampai ke ketiak. Ketika ditanya, ia menjelaskan bahwa Rasulullah SAW bersabda bahwa perhiasan orang beriman di surga tergantung sejauh mana air wudhu mengenai anggota tubuh. Ini mengindikasikan anjuran untuk menyempurnakan wudhu, dan memberikan motivasi spiritual bahwa wudhu bukan hanya untuk bersuci, tetapi memiliki pengaruh terhadap kemuliaan di akhirat. Hadis ini memberi semangat untuk tidak sekadar sah, tetapi menyempurnakan ibadah.