عَنْ أَيُّوبَ عَنْ حَفْصَةَ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ أَوْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ عَنْ حَفْصَةَ عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ كُنَّا نُنْهَى أَنْ نُحِدَّ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلاَثٍ ، إِلاَّ عَلَى زَوْجٍ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا ، وَلاَ نَكْتَحِلَ وَلاَ نَتَطَيَّبَ وَلاَ نَلْبَسَ ثَوْبًا مَصْبُوغًا إِلاَّ ثَوْبَ عَصْبٍ وَقَدْ رُخِّصَ لَنَا عِنْدَ الطُّهْرِ إِذَا اغْتَسَلَتْ إِحْدَانَا مِنْ مَحِيضِهَا فِى نُبْذَةٍ مِنْ كُسْتِ أَظْفَارٍ ، وَكُنَّا نُنْهَى عَنِ اتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ . قَالَ رَوَاهُ هِشَامُ بْنُ حَسَّانَ عَنْ حَفْصَةَ عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم (رواه البخاري: ٣١٣)
Artinya: Hadis dari Ayyub dari Hafshah. Abu ‘Abdullah berkata: atau Hisyam bin Hassan dari Hafshah dari Ummu ‘Athiyah dari SAW, ia berkata: kami dilarang berkabung atas kematian di atas tiga hari kecuali atas kematian suami, yaitu selama empat bulan sepuluh hari. Selama masa itu dia tidak boleh bersolek, memakai wewangian, memakai pakaian yang berwarna kecuali pakaian lurik (dari negeri Yaman). Dan kami diberi keringanan bila hendak mandi seusai haid untuk menggunakan sebatang kayu wangi. Dan kami juga dilarang mengantar jenazah. Abu ‘Abdullah berkata: Hisyam bin Hassan meriwayatkan dari Hafshah dari Ummu ‘Athiyah dari Nabi SAW. (HR. al-Bukhari: 150)
Hadis ini menjelaskan tentang ketentuan masa berkabung bagi seorang wanita muslimah atas wafatnya suami, yaitu selama empat bulan sepuluh hari, sebagaimana dituntunkan oleh Nabi Muhammad SAW melalui riwayat Ummu ‘Athiyah. Dalam masa tersebut, wanita diwajibkan menahan diri dari berhias, memakai wewangian, serta mengenakan pakaian berwarna selain lurik, sebuah kain sederhana dari Yaman, sebagai bentuk ungkapan duka dan penghormatan kepada suaminya. Hadis ini juga menunjukkan adanya keringanan dalam penggunaan sedikit wewangian setelah mandi dari haid, serta larangan bagi perempuan untuk mengikuti prosesi pengantaran jenazah, yang menggambarkan batasan syariat dalam menjaga adab dan kehormatan perempuan di masa-masa berkabung.