عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ وَأَبِى سَعِيدٍ رضى الله عنهما قَالاَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ إِنَّ الصَّوْمَ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ إِنَّ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَيْنِ إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِىَ اللَّهَ فَرِحَ. وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ ». (رواه مسلم: ٢٧٦٤)
Artinya: hadis dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id RA mereka berdua berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Sesungguhnya puasa itu adalah untukku, dan akulah yang akan membalasnya. Bagi orang yang berpuasa terdapat dua kebahagiaan: ketika ia berbuka, ia bergembira; dan ketika ia bertemu dengan Allah, ia bergembira (pula).’ Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Muslim: 2764)
Hadis ini menjelaskan keutamaan ibadah puasa dengan menegaskan bahwa puasa adalah amalan yang memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah, karena Allah sendiri yang secara langsung akan memberikan balasannya. Dalam sabda ini, Rasulullah SAW mengabarkan bahwa orang yang berpuasa mendapatkan dua kebahagiaan: kebahagiaan duniawi saat berbuka sebagai bentuk nikmat setelah menahan diri, dan kebahagiaan ukhrawi saat bertemu dengan Allah sebagai balasan atas kesabarannya. Selain itu, bau mulut orang yang berpuasa yang secara lahiriah mungkin dianggap kurang sedap justru lebih harum daripada minyak kasturi di sisi Allah, menunjukkan bahwa nilai amal ibadah tidak diukur dari bentuk lahiriahnya, melainkan dari keikhlasan dan ketaatan pelakunya.