عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ اتَّبَعْتُ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم وَخَرَجَ لِحَاجَتِهِ ، فَكَانَ لاَ يَلْتَفِتُ فَدَنَوْتُ مِنْهُ فَقَالَ « ابْغِنِى أَحْجَارًا أَسْتَنْفِضْ بِهَا أَوْ نَحْوَهُ وَلاَ تَأْتِنِى بِعَظْمٍ وَلاَ رَوْثٍ » فَأَتَيْتُهُ بِأَحْجَارٍ بِطَرَفِ ثِيَابِى فَوَضَعْتُهَا إِلَى جَنْبِهِ وَأَعْرَضْتُ عَنْهُ ، فَلَمَّا قَضَى أَتْبَعَهُ بِهِنَّ (رواه البخاري: ١٥٥)
Artinya: hadis dari Abu Hurairah ia berkata “:Aku mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau keluar untuk buang hajat, dan beliau tidak menoleh (ke kanan atau ke kiri) hingga aku pun mendekatinya. Lalu Beliau bersabda: “Carikan untukku batu untuk aku gunakan beristinja’ dan jangan bawakan tulang atau kotoran hewan.” Lalu aku datang kepada beliau dengan membawa kerikil di ujung kainku, batu tersebut aku letakkan di sisinya, lalu aku berpaling darinya. Setelah selesai beliau gunakan batu-batu tersebut.” (HR. al-Bukhari: 155)
Hadis ini menjelaskan adab dan tata cara istinja’ yang dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam peristiwa ini, Abu Hurairah meriwayatkan bagaimana beliau mengikuti Nabi saat hendak buang hajat, memperhatikan bahwa Nabi tidak menoleh ke kanan atau ke kiri sebagai bentuk menjaga kehormatan dan konsentrasi saat dalam kondisi tersebut. Nabi kemudian memerintahkan untuk dicarikan batu sebagai alat bersuci, dengan larangan khusus agar tidak menggunakan tulang atau kotoran hewan, menunjukkan penghormatan terhadap benda-bend18a yang memiliki nilai tertentu dalam syariat, serta pentingnya memilih alat yang suci dan layak untuk bersuci. Abu Hurairah pun memenuhi perintah tersebut dengan penuh adab, meletakkan batu di dekat Nabi dan menjauh untuk menjaga privasi beliau. Hadis ini menegaskan kesempurnaan tuntunan Islam dalam menjaga kebersihan, adab dalam buang hajat, dan pemilihan alat yang sesuai untuk istinja’.