Mandi sebelum Tidur


بَاب الِاغْتِسَالِ قَبْلَ النَّوم

 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَيْسٍ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ كَيْفَ كَانَ نَوْمُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْجَنَابَةِ أَيَغْتَسِلُ قَبْلَ

أَنْ يَنَامَ أَوْ يَنَامُ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ قَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ رُبَّمَا اغْتَسَلَ فَنَامَ وَرُبَّمَا تَوَضَّأَ فَنَامَ (رواه النَّسَائِي: ٤٠٢)

Artinya: hadis dari Abdullah bin Abu Qais dia berkata: “Aku bertanya kepada Aisyah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur dalam keadaan junub? Apakah beliau mandi sebelum tidur? Atau tidur sebelum mandi?” Aisyah menjawab: ‘Semua pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kadang beliau mandi dahulu lantas tidur, dan kadang (hanya) wudlu lalu tidur.” (HR. an-Nasa’i: 402)

Hadis ini menjelaskan tentang kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengatur tata cara tidur dalam keadaan junub, melalui penuturan Aisyah radhiyallahu ‘anha kepada Abdullah bin Abu Qais. Dalam riwayat ini, Aisyah menerangkan bahwa Nabi terkadang mandi terlebih dahulu sebelum tidur, dan terkadang cukup berwudhu lalu tidur, menunjukkan adanya keringanan dalam syariat terkait kebersihan sebelum tidur bagi orang yang berjunub. Hal ini menggambarkan keluasan dan kemudahan Islam dalam mengatur urusan ibadah, serta memberikan pilihan kepada umat sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing, tanpa mengabaikan pentingnya menjaga kesucian dan adab dalam beristirahat.