Najisnya Darah dan Bagaimana Membasuhnya


عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ قَالَ حَدَّثَتْنِى فَاطِمَةُ عَنْ أَسْمَاءَ قَالَتْ جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ إِحْدَانَا يُصِيبُ ثَوْبَهَا مِنْ دَمِ الْحَيْضَةِ كَيْفَ تَصْنَعُ بِهِ قَالَ « تَحُتُّهُ ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِالْمَاءِ ثُمَّ تَنْضَحُهُ ثُمَّ تُصَلِّى فِيهِ ».(رواه مسلم: ٧٠١)

Artinya: hadis dari Hisyam bin Urwah (dalam riwayat lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hatim dan lafazh tersebut miliknya, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Hisyam bin Urwah dia berkata: telah menceritakan kepada kami Fatimah dari Asma’ dia berkata: “Seorang perempuan datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata: ‘Pakaian salah seorang dari kalangan kami terkena darah haid. Apa yang harus dia lakukan? ‘ Beliau bersabda: “Keriklah darah itu (terlebih dahulu), kemudian bilaslah ia dengan air, kemudian siramlah ia. Setelah itu (kamu boleh) menggunakannya untuk mendirikan shalat.” (HR. Muslim: 701)

 

Hadis ini menjelaskan cara membersihkan pakaian dari darah haid sebelum digunakan untuk salat. Langkahnya adalah mengerik noda darah, membilasnya, lalu menyiramnya dengan air. Ini menegaskan bahwa najis dapat dibersihkan dan pakaian tetap sah digunakan untuk ibadah, selama telah disucikan sesuai tuntunan syariat.