عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ دَخَلَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ عَلَى ابْنِ عَامِرٍ يَعُودُهُ وَهُوَ مَرِيضٌ فَقَالَ أَلاَ تَدْعُو اللَّهَ لِى يَا ابْنَ عُمَرَ. قَالَ إِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ « لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلاَ صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ ». وَكُنْتَ عَلَى الْبَصْرَةِ. (رواه مسلم: ٥٥٧)
Artinya: hadis dari Mush’ab bin Sa’d dia berkata: ” Abdullah bin Umar menemui Ibnu Amir untuk menjenguknya yang saat itu sedang sakit. Ibnu Amir lalu berkata: ‘Tidakkah engkau mendoakanku wahai Ibnu Umar’. Ibnu Umar menjawab, ‘Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak diterima shalat tanpa bersuci, dan tidak diterima sedekah dari pengkhiatan (harta ghanimah) ‘, dan kamu ketika itu berada di Bashrah.” (HR. Muslim: 557)
Hadis ini menjelaskan tentang pentingnya menjaga kesucian diri dalam beribadah dan keharusan menjaga kejujuran dalam harta, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah SAW bahwa shalat tidak akan diterima tanpa bersuci, dan sedekah tidak diterima dari harta yang diperoleh secara khianat. Dalam peristiwa ini, Abdullah bin Umar mengingatkan Ibnu Amir yang pernah menjabat sebagai gubernur di Bashrah, bahwa amal ibadah tidak hanya sah dengan syarat lahiriah seperti bersuci, tetapi juga harus bersih dari sifat khianat, terutama dalam mengelola amanah harta. Syarah ini menunjukkan bahwa kesucian batin, seperti kejujuran dan amanah, sama pentingnya dengan kesucian lahiriah dalam meraih penerimaan amal di sisi Allah.