Wajibnya Wanita Mandi jika Mengeluarkan Air Mani


وَحَدَّثَنِى زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ يُونُسَ الْحَنَفِىُّ حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ بْنُ عَمَّارٍ قَالَ قَالَ إِسْحَاقُ بْنُ أَبِى طَلْحَةَ حَدَّثَنِى أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ جَاءَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ  وَهِىَ جَدَّةُ إِسْحَاقَ  إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ لَهُ وَعَائِشَةُ عِنْدَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ الْمَرْأَةُ تَرَى مَا يَرَى الرَّجُلُ فِى الْمَنَامِ فَتَرَى مِنْ نَفْسِهَا مَا يَرَى الرَّجُلُ مِنْ نَفْسِهِ. فَقَالَتْ عَائِشَةُ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ فَضَحْتِ النِّسَاءَ تَرِبَتْ يَمِينُكِ. فَقَالَ لِعَائِشَةَ « بَلْ أَنْتِ فَتَرِبَتْ يَمِينُكِ نَعَمْ فَلْتَغْتَسِلْ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ إِذَا رَأَتْ ذَاكِ ». (رواه مسلم: ٧٣٥)

Artinya: hadis dari telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Umar bin Yunus al-Hanafi telah menceritakan kepada kami Ikrimah bin Ammar dia berkata: Ishaq bin Abi Thalhah berkata: telah menceritakan kepadaku Anas bin Malik dia berkata: “Ummu Sulaim mendatangi -dan dia adalah nenek Ishaq- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata kepadanya -sedangkan aisyah berada di sisi beliau, ‘Wahai Rasulullah, seorang wanita bermimpi sesuatu yang juga dimimpikan seorang laki-laki dalam tidurnya, lalu dia bermimpi dirinya (melakukan sesuatu) sebagaimana laki-laki bermimpi dirinya (melakukan sesuatu).’ Maka Aisyah berkata: ‘Kamu telah membuka (aib) wanita, serius itu.” Maka beliau bersabda kepada Aisyah, ‘Bahkan kamu juga, aku juga serius.” Ya benar, (wanita juga bermimpi seperti laki-laki), maka hendaklah kamu mandi wahai Ummu Sulaim apabila kamu bermimpi bersenggama.” (HR. Muslim: 735)

Hadis ini menggambarkan bahwa mimpi basah bukan hanya dialami laki-laki, tetapi juga wanita. Ummu Sulaim secara berani dan terbuka bertanya tentang hukum wanita yang bermimpi seperti laki-laki, yang secara tersirat menyangkut mimpi keluar air mani. Aisyah sempat kaget dengan pertanyaan itu, tetapi Rasulullah SAW menjelaskan bahwa jika wanita mengalami hal tersebut, maka ia juga wajib mandi janabah. Hadis ini menegaskan kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam hukum bersuci, dan bagaimana Nabi menjawab dengan ilmiah tanpa menghakimi rasa malu, menunjukkan pentingnya adab dalam bertanya dan menjawab persoalan fikih