عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو عِنْدَ الْكَرْبِ: «لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْحَكِيمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (رواه الترمذي، رقم ٣٤٣٥)
hadis dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Nabi SAW biasa berdoa ketika dalam keadaan susah atau cemas (al-kurb): “Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Penyantun lagi Maha Bijaksana. Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhan ‘Arsy yang agung. Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhan langit dan bumi, dan Tuhan ‘Arsy yang mulia.” (HR. Al-Tirmidzi, No. 3435)
Hadis ini menganjurkan membaca dzikir tertentu saat mengalami kesulitan atau kegelisahan (al-kurb). Pentingnya mengagungkan Allah dengan menyebut sifat-sifat-Nya yang mulia seperti al-Halim, al-Hakim, Rabbul ‘Arsy. Menekankan bahwa tauhid (keesaan Allah) adalah fondasi kekuatan spiritual seorang Muslim dalam menghadapi masalah. Doa ini mencerminkan kerendahan hati dan pengakuan kelemahan manusia, serta kebutuhan mutlak kepada Allah. Hadis ini juga bisa menjadi rujukan dalam doa-doa pribadi saat menghadapi musibah, kesedihan, atau tekanan hidup.