عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْيَأْخُذْ دَاخِلَةَ إِزَارِهِ فَلْيَنْفُضْ بِهَا فِرَاشَهُ وَلْيُسَمِّ اللَّهَ فَإِنَّهُ لَا يَعْلَمُ مَا خَلَفَهُ بَعْدَهُ عَلَى فِرَاشِهِ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَضْطَجِعَ فَلْيَضْطَجِعْ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ وَلْيَقُلْ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبِّي بِكَ وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَاغْفِرْ لَهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ (رواه مسلم، رقم ٢٧١٤)
hadis dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda, “Apabila seseorang hendak berbaring, maka hendaklah ia mengambil alat pembersih untuk membersihkan alas tidurnya dan sebutlah nama Allah, karena ia tidak tahu apa yang terdapat di atas kasurnya setelah dipakai tidur. Apabila seseorang hendak tidur, maka hendaknya ia tidur dengan miring ke kanan dan mengucapkan doa, “Subnaanaka, Alloohumma Robbii, Bika Wadho’tu Janbii, Wabika Arfa’uhu, In Amsakta Nafsii Faghfir Lahaa Wain Arsaltahaa, Fahfazh-haa Bimaa Tahfazhu Bihi ‘Ibaadakash Shoolihiina’, ‘Mahasuci Engkau ya Allah, Tuhanku. Dengan nama-Mu aku baringkan tubuhku dan karena-Mu lah aku bangun dari tidur. Apabila Engkau mematikanku, maka berilah ampunan dan apabila Engkau menghidupkanku, maka peliharalah sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang shalih. (HR. Muslim, No 2714)
Hadis ini mengajarkan adab yang dianjurkan ketika seorang Muslim hendak tidur. Nabi Muhammad SAW memerintahkan untuk menepuk atau membersihkan tempat tidur menggunakan bagian dalam kain (seperti ujung selimut atau pakaian), sambil membaca basmalah, karena seseorang tidak mengetahui apa yang mungkin terjadi atau menempel di tempat tidurnya setelah ia meninggalkannya. Setelah membersihkan tempat tidur, dianjurkan untuk berbaring di sisi kanan dan membaca doa yang diajarkan, yang berisi pengakuan atas ketergantungan kepada Allah dalam menidurkan dan membangunkan jiwa. Dalam doa tersebut juga terdapat permintaan ampunan jika ajal menjemput saat tidur, serta permohonan perlindungan jika Allah menghendaki jiwa tersebut tetap hidup. Hadis ini menunjukkan pentingnya menjaga keselamatan fisik dan spiritual sebelum tidur, serta menanamkan tawakal dan kesadaran akan kuasa Allah atas hidup dan mati.