Doa Pagi Hari


عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ إِذَا قَالَ حِينَ يُمْسِي فَمَاتَ دَخَلَ الْجَنَّةَ أَوْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِذَا قَالَ حِينَ يُصْبِحُ فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ مِثْلَهُ (رواه البخري، رقم ٦٢٣٢)

hadis dari Syaddad bin Aus, dari Nabi SAW beliau bersabda: “Sesungguhnya istighfar yang paling utama adalah jika seorang hamba mengucapkan: ‘Allaahumma Anta Rabbii Laa Ilaaha Illaa Anta Khalaqtanii Wa Ana ‘Abduka Wa Ana ‘Alaa ‘Ahdika Wa Wa’dika Mastatha’tu Abuu-U Laka Bi Ni’matika ‘Alayya Wa Abuu-U Laka Bi Dzanbii Faghfirlii Fa Innahu Laa Yaghfirudz Dzunuuba Illaa Anta A’uudzu Bika Min Syarri Maa Shana’tu (Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menepati perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku mengakui dosaku kepada-Mu dan kuakui nikmat-Mu kepadaku, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain-Mu, Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku).’ Jika ia mengucapkan di waktu sore lalu meninggal, maka ia akan masuk surga. Dan jika ia membacanya di waktu pagi lalu meninggal, maka ia mendapatkan seperti itu juga (masuk surga).” (HR. Al-Bukhari, No. 6323)

 

Hadis ini menjelaskan tentang keutamaan istighfar yang paling utama, yang dikenal sebagai Sayyidul Istighfar. Dalam doa ini, seorang hamba menyatakan pengakuan total akan ketuhanan Allah, pengakuan atas nikmat yang telah diberikan, serta pengakuan atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Doa ini mencerminkan bentuk taubat yang sempurna, karena melibatkan unsur pengakuan, permohonan ampun, dan rasa rendah diri di hadapan Allah. Nabi SAW menyebut bahwa siapa yang membaca doa ini di waktu pagi dan meninggal pada hari itu, atau membacanya di waktu sore lalu meninggal malamnya, maka ia akan menjadi penghuni surga. Ini menunjukkan betapa besar nilai istighfar ini jika dibaca dengan ikhlas dan penuh kesadaran. Hadis ini juga mengajarkan pentingnya membiasakan zikir pagi dan petang sebagai bentuk kesiapan ruhani seorang Muslim dalam menghadapi kemungkinan kematian kapan pun ia datang, serta sebagai bentuk penguatan ikatan dengan Allah setiap harinya.