عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ أَلَا أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ تَقُولُهَا إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَإِنْ مِتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ مِتَّ عَلَى الْفِطْرَةِ وَإِنْ أَصْبَحْتَ أَصْبَحْتَ وَقَدْ أَصَبْتَ خَيْرًا تَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَى مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ قَالَ الْبَرَاءُ فَقُلْتُ وَبِرَسُولِكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ قَالَ فَطَعَنَ بِيَدِهِ فِي صَدْرِي ثُمَّ قَالَ وَنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ (رواه الترمذي، رقم ٣٣٩٤)
hadis dari Al Barra` bin ‘Azib bahwa Nabi SAW berkata kepadanya, “Maukah aku ajarkan kepadamu beberapa kata yang engkau ucapkan apabila engkau menuju tempat tidurmu, dan apabila engkau meninggal pada malam harimu maka engkau meninggal dalam keadaan fithrah (agama Islam), dan apabila engkau berada pada pagi hari maka engkau berada pada pagi hari dalam keadaan telah mendapatkan kebaikan. Engkau ucapkan; Allaahumma Innii Aslamtu Nafsii Ilaika Wa Wajjahtu Wajhii Ilaika Wa Fawwadhtu Amrii Ilaika Raghbatan Wa Rahbatan Ilaika Wa? Alja`Tu Zhahrii Ilaika, Laa Malja-A Wa Laa Manjaa Minka Illaa Ilaika, Aamantu Bikitaabikalladzii Anzalta Wa Nabiyyikalladzii Arsalta.” (Ya Allah, aku serahkan jiwaku kepada-Mu, dan aku arahkan wajahku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepadamu, dengan berharap dan takut kepada-Mu. Dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu, tidak ada tempat berlindung dan tempat menyelamatkan diri kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada nabi-Mu yang telah Engkau utus). (HR. Al- Tirmidzi, No. 3394)
Hadis ini mengajarkan tentang pentingnya doa sebelum tidur sebagai bentuk penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Rasulullah SAW mengajarkan kepada Al-Bara’ bin ‘Azib sebuah doa yang berisi pernyataan tawakal, keimanan, dan pengakuan akan kelemahan manusia yang hanya bisa berlindung kepada Allah. Dalam doa tersebut, seseorang mengakui bahwa dirinya menyerahkan jiwa, wajah, dan segala urusan kepada Allah, serta menyatakan iman kepada kitab-Nya dan Nabi-Nya. Hadis ini juga menunjukkan bahwa membaca doa tersebut sebelum tidur menjadi sebab seseorang meninggal dalam keadaan fitrah, yaitu dalam agama Islam yang lurus. Selain itu, apabila seseorang tetap hidup hingga pagi, maka ia akan mendapatkan kebaikan. Hadis ini juga mengisyaratkan keutamaan tidur dalam keadaan berwudu. Dari sini dapat dipahami bahwa Islam tidak hanya mengatur ibadah dalam bentuk besar, tetapi juga memperhatikan hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari, termasuk adab dan doa sebelum tidur, agar setiap aktivitas seorang Muslim bernilai ibadah dan menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah.