عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رُفِعَتْ الْمَائِدَةُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ يَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ غَيْرَ مُوَدَّعٍ وَلَا مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبُّنَا
(رواه الترمذي، رقم ٣٧٩٠)
hadis dari Abu Umamah, ia berkata, Rasulullah SAW apabila telah disiapkan hidangan di hadapannya beliau mengucapkan, “Al Hamdulillaahi Hamdan Katsiiran Thayyiban Mubaarakan Fiihi Ghara Muwadda’in Wa Laa Mustaghnan ‘Anhu Rabbunaa (Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya dengan pujian yang banyak dan baik serta mendapat berkah padanya, tidak ditinggalkan dan tidak merasa cukup darinya, Engkau adalah Tuhan kami). (HR. Al-Tirmidzi, No. 3790)
Hadis ini menjelaskan bahwa setelah selesai makan, Rasulullah SAW mengajarkan doa sebagai ungkapan syukur kepada Allah. Dalam doa tersebut, beliau memuji Allah dengan pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah, sambil mengakui bahwa manusia tidak bisa lepas dari kebutuhan kepada-Nya. Doa ini mencerminkan adab setelah makan yang diajarkan Rasulullah, yaitu memuji dan bersyukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan. Selain itu, doa ini juga mengandung makna pengakuan akan ketergantungan manusia kepada Allah, serta pujian yang mencakup keberkahan dan tauhid secara utuh.