عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُهُمْ إِذَا خَرَجُوا إِلَى الْمَقَابِرِ فَكَانَ قَائِلُهُمْ يَقُولُ فِي رِوَايَةِ أَبِي بَكْرٍ السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ وَفِي رِوَايَةِ زُهَيْرٍ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ (رواه مسلم، رقم ١٠٤)
hadis dari Sulaiman bin Buraidah dari bapaknya ia berkata, Rasulullah SAW mengajarkan kepada mereka apa yang mesti mereka kerjakan apabila mereka hendak pergi ziarah kubur. Maka salah seorang dari mereka membaca doa sebagaimana yang tertera dalam riwayat Abu Bakar, “As Salaamu ‘Ala Ahlid Diyaar -Sementara Dalam Riwayat Zuhair- As Salaamu ‘Alaikum Ahlad Diyaari Minal Mukminiin Wal Muslimiin Wa Innaa Insyaa`Allahu Bikum Laahiquun Asalullaha Lanaa Walakumul ‘Aafiyah (Semoga keselamatan tercurah bagi penghuni (kubur) dari kalangan orang-orang mukmin dan muslim dan kami insya Allah akan menyusul kalian semua. Saya memohon kepada Allah bagi kami dan bagi kalian Al ‘Afiyah (keselamatan). (HR. Muslim, No. 104)
Hadis ini menjelaskan bahwa Nabi mengajarkan para sahabatnya untuk mengucapkan salam kepada para penghuni kubur, yaitu dengan menyapa mereka sebagai “Ahli diyar” atau “penghuni tempat tinggal”, yang merujuk pada para muslimin dan mukminin yang telah wafat. Ucapan salam ini diiringi dengan pengakuan bahwa para peziarah pun suatu saat akan menyusul mereka ke alam akhirat, sebagai pengingat akan kematian dan kehidupan setelahnya. Doa dalam ziarah ini juga mencakup permohonan kepada Allah agar memberikan keselamatan dan afiyah (kesejahteraan dan perlindungan) baik kepada yang masih hidup maupun yang telah wafat. Kandungan hadis ini menunjukkan pentingnya hubungan spiritual antara umat Islam yang hidup dan yang telah meninggal, serta pengingat akan hakikat dunia yang sementara dan perlunya mempersiapkan diri untuk akhirat.