عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رُفِعَتْ الْمَائِدَةُ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلَا مُوَدَّعٍ وَلَا مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبُّنَا
(رواه ابوداود، رقم ٣٨٥١)
hadis dari Abu Umamah ia berkata, “Jika selesai makan, Rasulullah SAW membaca doa: Alhamdulillāhi ḥamdan katsīran ṭayyiban mubārakan fīhi, ghaira makfiyyin wa lā muwadda‘in wa lā mustaghnan ‘anhu rabbunā (Segala puji bagi Allah, dengan pujian yang banyak, baik dan penuh berkah, yang tidak cukup hanya itu, tidak terputus, dan tidak mungkin merasa tidak membutuhkan-Nya, wahai Tuhan kami).” (HR. Abu Daud, No. 3851)
Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak hanya bersyukur sebelum makan, tapi juga setelahnya, sebagai bentuk penghargaan atas nikmat dari Allah. Doa yang diucapkan beliau berisi pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah, mencerminkan betapa tingginya rasa syukur beliau. Dalam doa itu juga terdapat pengakuan bahwa manusia sepenuhnya bergantung kepada Allah, tidak bisa merasa cukup tanpa-Nya, dan tidak boleh lepas dari hubungan dengan-Nya. Ini mengajarkan kita untuk selalu bersyukur, rendah hati, dan menyadari bahwa semua kebaikan berasal dari Allah.