عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا فَرَغَ مِنْ طَعَامِهِ وَقَالَ مَرَّةً إِذَا رَفَعَ مَائِدَتَهُ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَفَانَا وَأَرْوَانَا غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلَا مَكْفُورٍ وَقَالَ مَرَّةً الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّنَا غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلَا مُوَدَّعٍ وَلَا مُسْتَغْنًى رَبَّنَا (رواه البخري، رقم ٥١٤٣)
hadis dari Abu Umamah, bahwa Nabi SAW jika selesai makan, kadang-kadang beliau mengucapkan, “Alhamdulillaahil ladzii kafaana wa arwaana, ghaira makfiyyin wa laa makfuurin.” (Segala puji hanya milik Allah yang telah memberi kecukupan kepada kami dan menghilangkan rasa haus, bukan nikmat yang tidak dianggap atau dikufuri). Di waktu lain, beliau membaca, “Alhamdulillaahi rabbinaa ghaira makfiyyin wa laa muwadda’in wa laa mustaghnan rabbanaa.” (Segala puji hanya milik Allah Rabb kami, bukan pujian yang tidak dianggap, tidak ditinggalkan, dan tidak dibutuhkan oleh Tuhan kami). (HR. al-Bukhari, No. 5143)
Hadis ini mengandung beberapa pelajaran penting. Pertama, adab setelah makan, yaitu membaca doa sebagai bentuk rasa syukur atas makanan dan minuman yang telah diberikan oleh Allah. Kedua, doa ini mengajarkan kita untuk mengakui kecukupan dan kenikmatan yang diberikan Allah, baik berupa makanan maupun minuman. Ketiga, melalui lafaz-lafaznya, doa ini mempertegas tauhid dan pengakuan atas kebesaran serta kemahaindependenan Allah bahwa Allah tidak butuh makhluk-Nya dan nikmat-Nya tidak boleh dikufuri. Keempat, doa ini menumbuhkan kesadaran spiritual dalam aktivitas sehari-hari, mengajarkan kita untuk tidak meremehkan hal-hal kecil seperti makan dan minum, karena semua itu adalah nikmat yang layak disyukuri.