Hadis 34


عَنِ عَبْدِ اللَّهِ (ابْنِ مَسْعُودٍ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا نَقُولُ فِي الصَّلَاةِ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ: السَّلَامُ عَلَى اللَّهِ، السَّلَامُ عَلَىٰ فُلَانٍ، فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ إِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّلَامُ، فَإِذَا قَعَدَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ، فَلْيَقُلْ: التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ، وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ، وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَىٰ عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، فَإِذَا قَالَهَا، أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، ثُمَّ لِيَتَخَيَّرْ مِنَ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ

(رواه مسلم:55)

 [ ش ( التحيات ) التحيات جمع تحية وهي الملك والبقاء وقيل العظمة وقيل الحياة وإنما قيل التحيات بالجمع لأن ملوك العرب كان كل واحد منهم تحييه أصحابه بتحية مخصوصة فقيل جميع تحياتهم لله تعالى وهو المستحق لذلك حقيقة ( والصلوات ) هي الصلوات المعروفة وقيل الدعوات والتضرع وقيل الرحمة أي الله المتفضل بها ( والطيبات ) أي الكلمات الطيبات ومعنى الحديث أن التحيات وما بعدها مستحقة لله تعالى ولا تصلح حقيقتها لغيره ]

Artinya: hadis dari Dari Abdullah ibn Mas’ud RA, ia berkata: dahulu kami biasa mengucapkan dalam shalat di belakang Rasulullah SAW: “Salam (sejahtera) atas Allah, salam atas si Fulan.” Maka Rasulullah SAW bersabda kepada kami pada suatu hari, “Sesungguhnya Allah adalah As-Salam (Maha Sejahtera), maka apabila salah seorang di antara kalian duduk dalam shalat (tasyahud), hendaklah ia mengucapkan: ‘Segala penghormatan, doa, dan kebaikan adalah milik Allah. Salam sejahtera atasmu, wahai Nabi, beserta rahmat dan berkah Allah. Salam sejahtera atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shalih. lalu beliau bersabda: “Jika ia mengucapkan itu, maka (ucapannya) akan sampai kepada setiap hamba Allah yang shalih di langit dan di bumi. Kemudian hendaklah ia mengucapkan: ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.’ Setelah itu, ia boleh memilih doa (permohonan) apa pun yang ia kehendaki.

(HR. Muslim: 55)

Kata “التحيات” (at-tahiyyat) adalah bentuk jamak dari tahiyyah, yang berarti kekuasaan, keberlangsungan (keabadian), dan ada pula yang mengatakan bermakna keagungan atau kehidupan. Disebut dalam bentuk jamak karena dahulu para raja Arab masing-masing memiliki bentuk salam atau penghormatan khusus dari para pengikutnya. Maka dikatakan bahwa semua bentuk penghormatan itu hanya milik Allah Ta’ala, karena Dialah yang benar-benar pantas menerimanya secara hakiki.

Sedangkan “الصلوات” (ash-shalawat) di sini maksudnya adalah shalat-shalat yang telah dikenal, ada pula yang menafsirkannya sebagai doa dan permohonan (tadharru’), dan ada pula yang mengartikan sebagai rahmat, yakni rahmat dari Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya.

Adapun “الطيبات” (ath-thayyibat) berarti ucapan-ucapan yang baik dan suci. Makna dari keseluruhan ucapan dalam hadis ini adalah bahwa segala bentuk penghormatan, doa, rahmat, dan ucapan baik semuanya hanya layak dipersembahkan kepada Allah semata, karena tidak ada satu pun makhluk yang layak mendapatkan hakikatnya selain Allah Ta’ala.