عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: “كُلُّ أَهْلِ النَّارِ يَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ فَيَقُولُ: لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنتُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَيَكُونُ عَلَيْهِ حَسْرَةً، وَكُلُّ أَهْلِ الْجَنَّةِ يَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ فَيَقُولُ: لَوْلَا أَنْ هَدَانِي اللَّهُ لَكُنتُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَيَكُونُ لَهُ شُكْرًا” (رواه مسلم: ٧۹).
Artinya: hadis ini Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: setiap penghuni neraka melihat tempat duduknya di surga, lalu ia berkata, seandainya Allah memberi petunjuk kepadaku, pasti aku termasuk orang yang bertakwa.’ Maka itu menjadi penyesalan baginya, dan setiap penghuni surga melihat tempat duduknya di neraka, lalu ia berkata, seandainya Allah SWT tidak memberi petunjuk kepadaku, pasti aku termasuk penghuni neraka, maka itu menjadi bentuk syukur baginya. (HR. Muslim: 79)
Hadis ini menggambarkan penyesalan dan rasa syukur yang dialami oleh penghuni neraka dan surga pada hari kiamat. Penghuni neraka akan melihat tempat mereka di surga dan merasa menyesal, berpikir bahwa jika Allah memberinya petunjuk, ia pasti akan menjadi orang yang bertakwa dan selamat. Sebaliknya, penghuni surga akan melihat tempat mereka di neraka dan merasa bersyukur kepada Allah atas petunjuk-Nya, menyadari bahwa hanya dengan hidayah-Nya mereka dapat terhindar dari neraka. Hadis ini mengajarkan pentingnya rasa syukur kepada Allah atas petunjuk-Nya, yang membawa seseorang menuju keselamatan dan kebahagiaan yang abadi di akhirat.