Puasa Ashura: Kewajiban dan Syukur atas Keselamatan Musa


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَدِمَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلمالْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صُيَّامًا فَقَالَ  مَا هَذَا. قَالُوا هَذَا يَوْمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ فِيهِ فِرْعَوْنَ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم نَحْنُ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ. فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ. (رواه ابن ماجه :۱۸٠٦).

Artinya:   hadis dari Ibn Abbas, ia berkata: “Ketika Nabi SAW tiba di Madinah, ia mendapati orang-orang Yahudi berpuasa, lalu ia bertanya, ‘Apa ini? mereka menjawab, ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan Fir’aun, maka Musa berpuasa sebagai bentuk syukur kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda: kami lebih berhak atas Musa daripada kalian, kemudian ia berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umat Islam untuk berpuasa. (HR Ibnu Majjah: 1806)

Hadis-hadis yang Anda sebutkan menceritakan tentang puasa hari Ashura, yang awalnya dilakukan oleh umat Yahudi di Madinah sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa dan tenggelamnya Fir’aun. Nabi Muhammad SAW mendapati mereka berpuasa pada hari tersebut dan bertanya mengapa mereka melakukannya. Mereka menjelaskan bahwa itu adalah hari di mana Allah menyelamatkan Nabi Musa dan menghancurkan Fir’aun, dan Nabi Musa berpuasa sebagai bentuk terima kasih kepada Allah. Nabi SAW kemudian menyatakan bahwa beliau dan umat Islam lebih berhak untuk mengikuti Musa daripada mereka, lalu beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umat Islam untuk berpuasa sebagai tanda penghormatan dan syukur kepada Allah SWT. Dengan demikian, puasa Ashura menjadi ibadah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW, meskipun setelah diwajibkannya puasa Ramadan, puasa Ashura menjadi sunnah yang boleh dilakukan atau ditinggalkan.