Puasa Ashura: Kewajiban dan Syukur atas Keselamatan Musa


عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانُوا يَصُومُونَ عَاشُورَاءَ قَبْلَ أَنْ يُفْرَضَ رَمَضَانُ وَكَانَ يَوْمًا تَسْتَرُ فِيهِ الْكَعْبَةُ فَلَمَّا فَرَضَ اللَّهُ رَمَضَانَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: مَنْ شَاءَ أَنْ يَصُومَهُ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتْرُكَهُ فَلْيَتْرُكْهُ (رواه البخاري :٣٢۱٦).

Artinya:   hadis dari Ibn Abbas RA, ia berkata: ketika Nabi SAW tiba di Madinah, ia mendapati mereka berpuasa pada suatu hari, yaitu hari Ashura, mereka berkata, hari ini adalah hari yang sangat mulia, yaitu hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan kaum Fir’aun, maka Musa berpuasa sebagai bentuk syukur kepada Allah, Nabi SAW bersabda: aku lebih berhak untuk mengikuti Musa daripada mereka, kemudian ia berpuasa pada hari tersebut dan memerintahkan umat Islam untuk berpuasa. (HR. al-Bukhari: 3216)

Hadis-hadis yang Anda sebutkan menceritakan tentang puasa hari Ashura, yang awalnya dilakukan oleh umat Yahudi di Madinah sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa dan tenggelamnya Fir’aun. Nabi Muhammad SAW mendapati mereka berpuasa pada hari tersebut dan bertanya mengapa mereka melakukannya. Mereka menjelaskan bahwa itu adalah hari di mana Allah menyelamatkan Nabi Musa dan menghancurkan Fir’aun, dan Nabi Musa berpuasa sebagai bentuk terima kasih kepada Allah. Nabi SAW kemudian menyatakan bahwa beliau dan umat Islam lebih berhak untuk mengikuti Musa daripada mereka, lalu beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umat Islam untuk berpuasa sebagai tanda penghormatan dan syukur kepada Allah SWT. Dengan demikian, puasa Ashura menjadi ibadah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW, meskipun setelah diwajibkannya puasa Ramadan, puasa Ashura menjadi sunnah yang boleh dilakukan atau ditinggalkan.