عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَلَى الْمِنْبَرِ: “مَن لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ، وَمَن لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ، وَالتَّحَدُّثُ بِالنِّعْمَةِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ، وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ” (رواه الترمذى :٢٣۹٦).
Artinya: hadis ini Nu’man bin Bashir, ia berkata, Nabi SAW bersabda di mimbar: siapa yang tidak bersyukur atas sedikit, maka ia tidak akan bersyukur atas banyak, dan barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah, membicarakan nikmat Allah adalah bentuk syukur, dan meninggalkannya adalah bentuk kekufuran. Bersatu adalah rahmat, sementara perpecahan adalah azab. (HR al-Tirmidzi: 2398)
Hadis ini mengajarkan pentingnya syukur dalam setiap aspek kehidupan. Syukur atas nikmat, baik yang kecil maupun yang besar, adalah kunci untuk mendapatkan lebih banyak rahmat. Bersyukur kepada sesama manusia juga merupakan bentuk syukur kepada Allah. Selain itu, menyebarkan kebaikan dan berbicara tentang nikmat Allah juga merupakan bentuk syukur, sedangkan menyembunyikannya atau tidak menghargainya adalah bentuk kekufuran. Dalam kehidupan sosial, bersatu dalam jamaah (persatuan) adalah rahmat, sementara perpecahan dapat membawa azab. Hadis ini juga mengingatkan untuk menjaga hubungan baik dengan sesama sebagai bagian dari syukur kita kepada Allah.