Menghindari Kesyirikan dalam Syukur


 عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ﴿وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ﴾ قَالَ: شُكْرُكُمْ تَقُولُونَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا وَبِنَجْمِ كَذَا وَكَذَا (رواه ابن ماجه :٣٦٠٦).

Artinya: hadis dari Ali RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda tentang firman Allah: dan kalian menjadikan rezeki kalian bahwa kalian mendustakan, ia bersabda, syukur kalian (seharusnya adalah) dengan mengatakan: kami diberi hujan karena karunia Allah, tetapi kalian malah berkata: kami diberi hujan oleh bintang ini dan itu. (HR al-Tirmidzi: 3606)

Hadis ini menegaskan bahwa bentuk syukur yang benar adalah mengakui segala nikmat, termasuk turunnya hujan, berasal semata-mata dari karunia Allah, bukan dari sebab-sebab alamiah seperti bintang atau faktor lain yang dianggap berpengaruh, karena ketika seseorang mengaitkan rezeki dan nikmat kepada selain Allah, itu termasuk bentuk pendustaan terhadap nikmat-Nya, sedangkan hakikat syukur adalah menisbatkan segala kebaikan hanya kepada Allah, dengan penuh keyakinan dan pengakuan bahwa tiada daya dan kekuatan melainkan dengan kehendak-Nya.