حَدَّثَنِي ابْنُ عَبَّاسٍ قَالَ: “مَطَرَ النَّاسُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَصْبَحَ مِنَ النَّاسِ شَاكِرٌ وَمِنْهُمْ كَافِرٌ. قَالُوا: هَذِهِ رَحْمَةُ اللَّهِ. وَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَقَدْ صَدَقَ نُوءُ كَذَا وَكَذَا. فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ: (فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ) حَتَّى بَلَغَتْ: (وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ)”. (رواه مسلم :۱٢٧).
Artinya: hadis dari Ibn Abbas, ia berkata: pada masa Nabi SAW, turun hujan, lalu Rasulullah SAW bersabda: ada di antara mereka yang bersyukur, dan ada pula yang kufur, mereka berkata, ini adalah rahmat Allah SWT, sebagian dari mereka mengatakan, sesungguhnya ini karena pengaruh bintang sekian dan sekian, maka turunlah ayat ini: (Fala uqsimu bimaqa’iu an-nujum) hingga mencapai (Watij’aluuna rizqakum annakum tukaththibun). (HR Muslim: 127)
Hadits ini menjelaskan bahwa ketika hujan turun, sebagian orang memuji rahmat Allah, sementara yang lain malah mengaitkannya dengan fenomena alam seperti posisi bintang, yang pada akhirnya menjadi alasan bagi turunnya ayat yang mengingatkan manusia untuk tidak mengkaitkan rezeki dengan hal-hal selain takdir Allah SWT.