Menunjukkan Syukur melalui Pujian dan Penghargaan atas Pemberian


 عَنْ جَابِرٍ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: مَنْ أُعْطِىَ عَطَاءً فَوَجَدَ فَلْيَجْزِ بِهِ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُثْنِ فَإِنَّ مَنْ أَثْنَى فَقَدْ شَكَرَ وَمَنْ كَتَمَ فَقَدْ كَفَرَ وَمَنْ تَحَلَّى بِمَا لَمْ يُعْطَهُ كَانَ كَلاَبِسِ ثَوْبَىْ زُورٍ (رواه الترمذى : ٢۱٦٦).

Artinya:   hadis dari Jabir, bahwa Nabi SAW bersabda: siapa yang diberi sesuatu pemberian dan merasa senang dengan itu, maka hendaklah ia membalasnya, dan siapa yang tidak mampu untuk membalas, hendaklah ia memuji pemberian tersebut, karena siapa yang memuji, maka dia telah bersyukur, dan siapa yang menyembunyikan pemberian itu, maka dia telah kufur dan siapa yang berhias dengan apa yang tidak diberikan kepadanya, maka dia seperti orang yang mengenakan dua pakaian kebohongan. (HR. al-Tirmidzi: 2166)

Hadits ini mengajarkan kita untuk bersyukur atas pemberian yang kita terima, baik dengan membalasnya sesuai kemampuan atau dengan memuji pemberian tersebut. Jika kita menyembunyikan atau tidak mengakui pemberian, itu dianggap sebagai suatu bentuk kekufuran, dan berpura-pura menerima sesuatu yang tidak diberikan adalah seperti mengenakan kebohongan