عَنْ الْمُغِيرَةُ يَقُولُ: قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تَوَرَّمَتْ قَدَمَاهُ، فَقِيلَ لَهُ: غَفَرَ اللَّـهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ، قَالَ: أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا؟ (رواه البخاري :٤٥٥٦).
Artinya: hadis dari al-Mughīrah, ia berkata: Nabi SAW berdiri untuk shalat hingga kedua kakinya bengkak, lalu dikatakan kepadanya, semoga Allah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang, ia menjawab, tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur? (HR al-Bukhari: 4556)
Hadis-hadis ini menggambarkan kesungguhan Nabi Muhammad SAW dalam beribadah, khususnya dalam shalat malam. Nabi SAW sering berdiri lama dalam shalat hingga kakinya bengkak, meskipun dosa-dosanya telah diampuni oleh Allah. Ketika A’isyah RA menanyakan mengapa beliau terus melakukannya, Nabi SAW menjawab, “Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?” Hal ini menunjukkan tekad Nabi SAW untuk selalu bersyukur kepada Allah dengan beribadah secara maksimal. Seiring berjalannya waktu, ketika tubuh beliau semakin gemuk, beliau shalat dalam posisi duduk, namun tetap berdiri untuk membaca dan rukuk. Ini mengajarkan umat untuk selalu berusaha meningkatkan ibadah dengan kesungguhan dan keikhlasan, meski Allah telah memberikan ampunan.