عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ الْخَطْمِىِّ حَدَّثَنَا الْبَرَاءُ بْنُ عَازِبٍ وَهْوَ غَيْرُ كَذُوبٍ قَالَ كُنَّا نُصَلِّى خَلْفَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ . لَمْ يَحْنِ أَحَدٌ مِنَّا ظَهْرَهُ حَتَّى يَضَعَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم جَبْهَتَهُ عَلَى الأَرْضِ. (رواه البخارى: ٨٠٩)
Hadis dari ‘Abdullah bin Yazid al-Khatmi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Bara’ bin ‘Azib dan ia bukanlah seorang pendusta ia berkata: kami biasa shalat di belakang Nabi SAW, maka apabila beliau mengucapkan ‘Sami‘allahu liman ḥamidah’ (Allah mendengar orang yang memuji-Nya), tidak seorang pun dari kami yang membungkukkan punggungnya (untuk sujud) sampai Nabi SAW meletakkan dahinya di tanah. (HR. al-Bukhari: 811)
Hadis ini menjelaskan penghormatan para sahabat terhadap Nabi SAW dalam shalat berjamaah. Mereka tidak bergerak ke posisi sujud sebelum Nabi SAW terlebih dahulu meletakkan dahinya di tanah. Ini menunjukkan kedisiplinan mereka dalam mengikuti gerakan imam serta menggambarkan betapa pentingnya ketertiban dalam berjamaah dan keteladanan Nabi dalam praktik ibadah.