Sunnah Bagi Imam Memperbagus Suara saat Membaca Al-Qur’an


عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ السَّائِبِ قَالَ قَدِمَ عَلَيْنَا سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ وَقَدْ كُفَّ بَصَرُهُ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَقَالَ مَنْ أَنْتَ فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ مَرْحَبًا بِابْنِ أَخِي بَلَغَنِي أَنَّكَ حَسَنُ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ نَزَلَ بِحُزْنٍ فَإِذَا قَرَأْتُمُوهُ فَابْكُوا فَإِنْ لَمْ تَبْكُوا فَتَبَاكَوْا وَتَغَنَّوْا بِهِ فَمَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِهِ فَلَيْسَ مِنَّا.
(رواه ابن ماجه: ١٣٩٨)

Hadis dari ‘Abdurrahman bin As Sa`ib, ia berkata: Sa’d bin Abu Waqash datang menemui kami sementara matanya telah buta, maka aku pun mengucapkan salam kepadanya, ia berkata: siapa kamu? maka aku pun kabarkan kepadanya (siapa kami). Ia pun berkata: selamat datang wahai anak saudaraku, telah sampai kepadaku bahwa suaramu bagus ketika membaca al-Qur’an, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: sesungguhnya al-Qur`an turun dengan kesedihan, jika kalian membacanya maka bacalah dengan menangis, jika kalian tidak bisa menangis maka berpura-puralah untuk menangis, dan beriramalah dalam membacanya, barangsiapa tidak melakukannya maka ia bukan dari golongan kami.
(HR. Ibnu Majah: 1398)

Hadis ini menjelaskan bahwa sunnah-sunnah shalat berjama’ah khususnya sikap dan perasaan yang harus dimiliki seorang muslim ketika membaca al-Qur’an, terutama terkait dengan penghayatan dan perasaan yang muncul. Oleh karena itu, ketika membacanya, hendaklah pembaca menangis karena menyentuh hati; jika tidak mampu menangis, maka hendaklah berpura-pura menangis dan melagukan bacaan tersebut dengan indah. Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa siapa saja yang tidak melagukan bacaan al-Qur’an dengan perasaan dan penghayatan, maka dia bukan termasuk golongan umat beliau.