عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ يَوْمًا ثُمَّ انْصَرَفَ فَقَالَ يَا فُلَانُ أَلَا تُحْسِنُ صَلَاتَكَ أَلَا يَنْظُرُ الْمُصَلِّي إِذَا صَلَّى كَيْفَ يُصَلِّي فَإِنَّمَا يُصَلِّي لِنَفْسِهِ إِنِّي وَاللَّهِ لَأُبْصِرُ مِنْ وَرَائِي كَمَا أُبْصِرُ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ.
(رواه مسلم: ٦٤٢)
Hadis dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW shalat mengimami kami pada suatu hari, kemudian beliau berpaling seraya bersabda, wahai fulan, tidakkah kamu memperbagus shalatmu, tidakkah seorang yang shalat mencermati apabila dia shalat, bagaimana dia shalat, dia shalat adalah untuk dirinya sendiri, demi Allah SWT, aku melihat dari arah belakangku sebagaimana aku melihat dari arah depanku.
(HR. Muslim: 642)
Hadis ini menjelaskan bahwa salah satu sunnah dalam shalat berjama’ah adalah memperhatikan kesempurnaan gerakan dan kekhusyukan shalat, karena setiap orang shalat untuk dirinya sendiri, bukan sekadar ikut-ikutan. Dalam hadis ini, Rasulullah SAW menegur salah satu sahabat yang tidak shalat dengan baik, lalu beliau mengingatkan agar setiap orang memperhatikan bagaimana ia shalat, karena pada hakikatnya ia sedang beribadah untuk dirinya sendiri. Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa beliau dapat melihat dari belakang sebagaimana beliau melihat dari depan, sebagai bentuk mukjizat dan juga untuk menunjukkan bahwa imam mengetahui kondisi makmumnya. Hadis ini mengajarkan pentingnya kesadaran diri dalam shalat dan menunjukkan bahwa Rasulullah SAW sangat memperhatikan kualitas ibadah para sahabatnya, termasuk dalam shalat berjama’ah.