عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ « إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ رُؤْيَا يُحِبُّهَا فَإِنَّمَا هِىَ مِنَ اللَّهِ، فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ عَلَيْهَا ، وَلْيُحَدِّثْ بِهَا ، وَإِذَا رَأَى غَيْرَ ذَلِكَ مِمَّا يَكْرَهُ ، فَإِنَّمَا هِىَ مِنَ الشَّيْطَانِ ، فَلْيَسْتَعِذْ مِنْ شَرِّهَا، وَلاَ يَذْكُرْهَا لأَحَدٍ، فَإِنَّهَا لاَ تَضُرُّهُ ». (رواه البخاري: ٦٩٨٥)
Artinya: hadis dari Abu Sa’id al-Khudri, beliau mendengar Nabi SAW bersabda: Jika salah seorang di antara kalian melihat mimpi yang disukainya, maka sesungguhnya itu berasal dari Allah, hendaklah ia memuji Allah atasnya dan menceritakannya. Dan jika ia melihat selain itu, yang tidak disukainya, maka itu berasal dari setan, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari kejahatannya dan tidak menceritakannya kepada siapapun, karena mimpi tersebut tidak akan membahayakannya. (HR. al-Bukhari: 6985)
Hadis ini mengajarkan bagaimana seharusnya sikap kita terhadap mimpi (ru’yaa) yang kita alami. Jika mimpi tersebut menyenangkan dan kita menyukainya, maka itu adalah hadiah dari Allah, dan kita dianjurkan untuk memujinya serta menceritakannya kepada orang lain. Namun, jika mimpi tersebut menakutkan atau tidak disukai, itu adalah gangguan dari setan, dan kita disarankan untuk memohon perlindungan kepada Allah dan tidak menceritakannya kepada orang lain. Mimpi buruk seperti itu tidak akan membahayakan kita jika kita mengikuti petunjuk ini.