عَنْ أَنَسِ بْنِ سِيرِينَ قَالَ: قُلْتُ لِابْنِ عُمَرَ: أَرَأَيْتَ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الغَدَاةِ، أَأُطِيلُ فِيهِمَا الْقِرَاءَةَ؟ فَقَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى، وَيُوتِرُ بِرَكْعَةٍ، وَيُصَلِّي الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الغَدَاةِ، وَكَأَنَّ الْأَذَانَ بِأُذُنَيْهِ. قَالَ حَمَّادٌ: أَيِ السُّرْعَةِ
(رواه البخاري: ٩٥٠)
Aritnya: dari Anas bin Sirin berkata: Aku bertanya kepada Ibn Umar: Bagaimana menurutmu tentang dua rakaat sebelum shalat Subuh? Apakah aku boleh memperpanjang bacaan dalam keduanya? Maka Ibn Umar menjawab: Nabi SAW biasa shalat malam dua rakaat-dua rakaat, dan mengakhirinya dengan satu rakaat (witir). Ia juga melaksanakan dua rakaat sebelum shalat Subuh, seakan-akan adzan masih terdengar di telinganya.” (Hammad menambahkan:) “Yakni betapa cepatnya ia melakukannya.
(HR al-Bukhari no:950 )
Hadis ini menjelaskan bahwa jawaban Ibn Umar ketika ditanya tentang dua rakaat sunnah sebelum shalat Subuh. Ibn Umar menjelaskan bahwa Rasulullah SAW biasa melaksanakan shalat malam dengan dua rakaat-dua rakaat, lalu menutupnya dengan satu rakaat witir. Khusus untuk dua rakaat sunnah sebelum Subuh, Nabi melakukannya dengan sangat ringan dan cepat, seolah-olah adzan Subuh masih terdengar di telinganya.