Tata Cara Shalat Tarawih dan Witir (2)


عَنْ عَائِشَةَ : أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً وَكَانَ يُصَلِّى ثَمَانِىَ رَكَعَاتٍ وَيُوتِرُ بِرَكْعَةٍ ثُمَّ يُصَلِّى – قَالَ مُسْلِمٌ : بَعْدَ الْوِتْرِ ثُمَّ اتَّفَقَا – رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ قَاعِدٌ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَرَكَعَ وَيُصَلِّى بَيْنَ أَذَانِ الْفَجْرِ وَالإِقَامَةِ رَكْعَتَيْنِ.

(رواه ابو داود: ١٣٤٢)

Artinya: dari Aisyah, ia berkata : Sesungguhnya Nabi SAW shalat malam sebanyak tiga belas rakaat, ia shalat delapan rakaat dan witir dengan satu rakaat, kemudian ia shalat. Menurut Muslim, setelah witir dua rakaat sambil duduk. Ketika ia ingin rukuk, ia berdiri dan rukuk. Ia juga shalat dua rakaat antara adzan fajar dan iqamah.

(HR Abu Daud no: 1342)

 

 

Hadis ini menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memiliki kebiasaan shalat malam sebanyak tiga belas rakaat dengan rincian yang menunjukkan variasi dalam pelaksanaannya. Ia shalat delapan rakaat, kemudian berwitir dengan satu rakaat, lalu menurut riwayat Muslim, ia menambahkan dua rakaat lagi sambil duduk, dan saat ingin rukuk ia berdiri terlebih dahulu. Setelah itu, ia juga melaksanakan dua rakaat sunnah antara adzan fajar dan iqamah, yakni sunnah fajar sebelum shalat Subuh.