Perubahan Jumlah Rakaat Shalat Malam (1)


عَنِ الأَسْوَدِ بْنِ يَزِيدَ : أَنَّهُ دَخَلَ عَلَى عَائِشَةَ فَسَأَلَهَا عَنْ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِاللَّيْلِ. فَقَالَتْ : كَانَ يُصَلِّى ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ اللَّيْلِ ثُمَّ إِنَّهُ صَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَتَرَكَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قُبِضَ -صلى الله عليه وسلم- حِينَ قُبِضَ وَهُوَ يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ تِسْعَ رَكَعَاتٍ وَكَانَ آخِرُ صَلاَتِهِ مِنَ اللَّيْلِ الْوِتْرَ.

(رواه ابو داود: ١٣٦٥)

Artinya: dari Al-Aswad bin Yazid, ia berkata: Ia masuk menemui Aisyah dan bertanya kepadanya tentang shalat malam Rasulullah SAW. Aisyah menjawab: Ia shalat malam sebanyak tiga belas rakaat. Kemudian ia shalat sebelas rakaat dan meninggalkan dua rakaat. Kemudian, sebelum ia wafat, beliau masih shalat malam sebanyak sembilan rakaat, dan shalat terakhir Beliau di malam hari adalah witir.

(HR Abu Daud no: 1365)

 

 

Hadis ini menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memiliki kebiasaan melaksanakan shalat malam dengan jumlah rakaat yang teratur dan menunjukkan perkembangan seiring perjalanan hidup beliau. Aisyah RA menerangkan bahwa pada awalnya Nabi SAW shalat malam sebanyak tiga belas rakaat, kemudian sebelas rakaat, dan menjelang akhir hayatnya, ia melaksanakan sembilan rakaat. Shalat malam ia selalu ditutup dengan witir sebagai penutup ibadah malam.