Keutamaan Salat Malam : Kisah Abdullah bin Umar (2)


عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: رَأَيْتُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأَنَّ بِيَدِي قِطْعَةَ إِسْتَبْرَقٍ، فَكَأَنِّي لَا أُرِيدُ مَكَانًا مِنَ الْجَنَّةِ إِلَّا طَارَتْ إِلَيْهِ، وَرَأَيْتُ كَأَنَّ اثْنَيْنِ أَتَيَانِي، أَرَادَا أَنْ يَذْهَبَا بِي إِلَى النَّارِ، فَتَلَقَّاهُمَا مَلَكٌ، فَقَالَ: لَا تَرَعْ، خَلِّيَا عَنْهُ. فَقَصَّتْ حَفْصَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى رُؤْيَايَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ( نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللهِ، لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ )، فَكَانَ عَبْدُ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ وَكَانُوا لَا يَزَالُونَ يَقُصُّونَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرُّؤْيَا أَنَّهَا فِي اللَّيْلَةِ السَّابِعَةِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ( أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ )

(رواه البخاري: ١١٠٥)

Artinya: dari Ibn Umar RA, ia berkata: Pada masa Nabi SAW, aku bermimpi seolah-olah di tanganku ada sepotong kain sutra halus berwarna hijau (istabraq), dan seakan-akan aku tidak ingin menuju ke satu tempat pun di surga melainkan kain itu membawaku terbang ke sana. Lalu aku melihat seakan-akan ada dua orang datang kepadaku dan hendak membawaku ke neraka, lalu datang seorang malaikat yang berkata kepada keduanya: ‘Jangan takutkan dia, biarkan dia pergi.’ Maka Hafshah pun menceritakan salah satu dari mimpiku itu kepada Nabi SAW, lalu ia bersabda: ‘Sebaik-baik orang adalah Abdullah (bin Umar), seandainya ia shalat malam.’ Maka setelah itu Abdullah pun rutin salat malam. Dan para sahabat terus-menerus menceritakan mimpi mereka kepada Nabi SAW, bahwa mereka melihat (dalam mimpi) Lailatul Qadar berada pada malam ketujuh dari sepuluh malam terakhir. Maka Rasulullah bersabda: ‘Aku melihat bahwa mimpi kalian bertepatan (berkumpul) pada sepuluh malam terakhir. Maka siapa yang ingin mencarinya (Lailatul Qadar), hendaklah mencarinya pada sepuluh malam terakhir.

(HR al-Bukhari: 1105)

 

Hadis ini menjelaskan bahwa para sahabat Nabi SAW sering menceritakan mimpi-mimpi mereka kepadanya, sebagai bentuk pencarian bimbingan dan pemahaman lebih dalam mengenai makna mimpi tersebut. Dalam mimpi Ibnu Umar, ia melihat dirinya terbang menuju surga dengan kain sutra hijau yang indah, namun juga mengalami percakapan dengan dua orang yang hendak membawanya ke neraka, yang akhirnya dicegah oleh seorang malaikat. Setelah mimpinya diceritakan kepada Rasulullah SAW, beliau memuji Ibnu Umar sebagai orang yang baik, tetapi menasihatinya untuk lebih banyak melaksanakan shalat malam. Setelah itu, Abdullah bin Umar pun lebih rajin shalat malam. Hadis ini juga menunjukkan bahwa sebagian sahabat Nabi bermimpi tentang Lailatul Qadar berada di sepuluh malam terakhir Ramadan, dan Rasulullah SAW kemudian menganjurkan mereka untuk mencarinya pada malam-malam tersebut.