Hadis 1,toleransi Nabi SAW dalam Urutan Amalan Haji dan sembelihan


عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ العَاصِ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَفَ فِي حَجَّةِ الوَدَاعِ بِمِنًى لِلنَّاسِ يَسْأَلُونَهُ، فَجَاءَهُ رَجُلٌ، فَقَالَ: لَمْ أَشْعُرْ، فَحَلَقْتُ قَبْلَ أَنْ أَذْبَحَ؟ فَقَالَ: (اِذْبَحْ وَلَا حَرَجَ) فَجَاءَ آخَرُ، فَقَالَ: لَمْ أَشْعُرْ، فَنَحَرْتُ قَبْلَ أَنْ أَرْمِيَ؟ قَالَ: (ارْمِ وَلَا حَرَجَ) فَمَا سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شَيْءٍ قُدِّمَ وَلَا أُخِّرَ، إِلَّا قَالَ: (افْعَلْ وَلَا حَرَجَ) (رواه البخاري :١٦٤٩).

Artinya: hadis dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash, bahwa Rasulullah SAW berdiri di Mina saat haji Wada’ (perpisahan) untuk menjawab pertanyaan orang-orang. Lalu datang seorang laki-laki dan berkata: “Aku tidak sadar (keliru), lalu aku mencukur rambut sebelum menyembelih (hewan kurban)?” Maka beliau bersabda: “Sembelihlah, tidak apa-apa (tidak berdosa). “Kemudian datang lagi orang lain dan berkata: “Aku tidak sadar, lalu aku menyembelih sebelum melempar (jumrah)?” Beliau bersabda: “Lemparlah, tidak apa-apa. “Tidaklah Nabi SAW ditanya tentang sesuatu yang dilakukan sebelum waktunya atau sesudah waktunya, melainkan beliau bersabda:”Lakukanlah, tidak apa-apa.” (HR al-Bukhari: 1649)

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسْأَلُ يَوْمَ النَّحْرِ بِمِنًى، فَيَقُولُ: (لَا حَرَجَ) فَسَأَلَهُ رَجُلٌ، فَقَالَ: حَلَقْتُ قَبْلَ أَنْ أَذْبَحَ، قَالَ: (اِذْبَحْ وَلَا حَرَجَ) وَقَالَ: رَمَيْتُ بَعْدَمَا أَمْسَيْتُ، فَقَالَ: (لَا حَرَجَ). (رواه البخاري :١٦٤۸).

Artinya: hadis dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: Nabi SAW ditanya pada hari Nahr (10 Dzulhijjah) di Mina, dan beliau menjawab: “Tidak apa-apa (tidak berdosa).” Lalu seorang laki-laki bertanya: “Aku mencukur sebelum menyembelih (hewan kurban). “Beliau bersabda: “Sembelihlah, tidak apa-apa. “Orang itu berkata:”Aku melempar (jumrah) setelah sore hari. “ia bersabda: “Tidak apa-apa.” (HR al-Bukhari: 1648)

Dua hadis tersebut menggambarkan betapa lapangnya syariat Islam, khususnya dalam pelaksanaan manasik haji. Rasulullah SAW menunjukkan sikap memudahkan dengan membolehkan urutan amalan (seperti mencukur, menyembelih, dan melempar jumrah) yang tidak sesuai ketentuan asal, selama dilakukan karena ketidaktahuan atau kelupaan. Beliau berulang kali menegaskan dengan ucapan “لا حرج” (tidak apa-apa, tidak berdosa), menunjukkan bahwa Islam tidak membebani umat dengan kesulitan dalam keadaan seperti ini. Ini juga menjadi

dasar penting tentang toleransi terhadap kesalahan yang tidak disengaja dalam ibadah.