عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ.
رواه البخاري (1473)
Diriwayatkan dari Ibn ‘Umar radhiyallahu ‘anhumā, ia berkata: “Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha‘ ukuran kurma atau satu sha‘ ukuran jelai bagi setiap hamba, orang merdeka, laki-laki, perempuan, kecil maupun besar dari kalangan kaum Muslimin, dan Beliau memerintahkan agar zakat ini dikeluarkan sebelum manusia keluar untuk menunaikan shalat ‘Ied.”
Hadits ini menegaskan bahwa zakat fitrah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim, tanpa memandang status, usia, atau jenis kelamin, dengan takaran sekitar 2,5 hingga 3 kilogram bahan makanan pokok sesuai kebiasaan setempat. Zakat fitrah bertujuan membersihkan jiwa dari kekurangan selama berpuasa dan menjadi bentuk kepedulian sosial agar kaum dhuafa dapat merayakan Idul Fitri dengan bahagia. Penyerahan zakat sebelum shalat ‘Ied mencerminkan pentingnya keadilan dan kebersamaan, sehingga semua lapisan masyarakat dapat menikmati hari kemenangan secara setara. Dengan demikian, zakat fitrah bukan hanya ritual, tetapi juga simbol solidaritas, penyempurna puasa, dan penguat tali persaudaraan dalam masyarakat Islam.