Menunaikan aqiqah anak


عَنْ سَمُرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُدَمَّى ».فَكَانَ قَتَادَةُ إِذَا سُئِلَ عَنِ الدَّمِ كَيْفَ يُصْنَعُ بِهِ قَالَ إِذَا ذَبَحْتَ الْعَقِيقَةَ أَخَذْتَ مِنْهَا صُوفَةً وَاسْتَقْبَلْتَ بِهِ أَوْدَاجَهَا ثُمَّ تُوضَعُ عَلَى يَافُوخِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَسِيلَ عَلَى رَأْسِهِ مِثْلُ الْخَيْطِ ثُمَّ يُغْسَلُ رَأْسُهُ بَعْدُ وَيُحْلَقُ. قَالَ أَبُو دَاوُدَ وَهَذَا وَهَمٌ مِنْ هَمَّامٍ « وَيُدَمَّى ». قَالَ أَبُو دَاوُدَ خُولِفَ هَمَّامٌ فِى هَذَا الْكَلاَمِ وَهُوَ وَهَمٌ مِنْ هَمَّامٍ وَإِنَّمَا قَالُوا « يُسَمَّى ». فَقَالَ هَمَّامٌ « يُدَمَّى ». قَالَ أَبُو دَاوُدَ وَلَيْسَ يُؤْخَذُ بِهَذَا.

dari Samurah, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:
“Setiap anak lelaki adalah tanggungan dari aqiqahnya, yang disembelih untuknya pada hari ketujuh, kepalanya dicukur, dan darahnya dituangkan.” Ketika Qatadah ditanya tentang bagaimana cara darah itu diperlakukan, ia berkata: “Jika kamu menyembelih aqiqah, ambil sedikit dari dagingnya dan hadapkan kepada lehernya, lalu letakkan di bagian atas kepala anak hingga darah mengalir di kepalanya seperti benang, kemudian cuci kepalanya dan cukurlah.” Abu Dawud berkata, “Ini adalah keliru dari Hammad, yang mengatakan ‘dan darahnya dituangkan.’ Mereka mengatakan seharusnya ‘dan diberi nama.’ Hammad keliru dalam hal ini, dan tidak bisa diterima.”

Hadis ini menjelaskan tentang sunnah ‘aqiqah, yaitu menyembelih hewan kurban sebagai tanda syukur atas kelahiran anak pada hari ketujuh setelah lahir, lalu mencukur rambut anak tersebut dan meneteskan darah hewan aqiqah ke kepalanya. Tujuannya adalah sebagai bentuk ibadah dan rasa syukur kepada Allah atas karunia kelahiran. Dalam syariat Islam, ‘aqiqah ini merupakan sunnah yang dianjurkan sebagai wujud perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anaknya. Adapun mengenai “دمى” (penetesan darah), terdapat perbedaan pendapat di kalangan perawi, namun yang shahih adalah bahwa darah hewan aqiqah tersebut disapukan atau diteteskan di kepala bayi sebagai simbol penyucian dan keberkahan, bukan untuk dikurbankan secara harfiah ke kepala bayi. Hal ini menunjukkan betapa Islam memperhatikan nilai-nilai kebersihan, keberkahan, dan simbolisme dalam setiap ibadah.