حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا أَبُو الأَشْهَبِ عَنِ الْحَسَنِ أَنَّ عُبَيْدَ اللَّهِ بْنَ زِيَادٍ عَادَ مَعْقِلَ بْنَ يَسَارٍ فِى مَرَضِهِ الَّذِى مَاتَ فِيهِ فَقَالَ لَهُ مَعْقِلٌ إِنِّى مُحَدِّثُكَ حَدِيثًا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – سَمِعْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً ، فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ ، إِلاَّ لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ
Dari Abu Nu’aim, ia berkata: “Abu al-Ashhab menceritakan kepada kami dari al-Hasan, bahwa `Ubaydullah bin Ziyad mengunjungi Ma’qil bin Yasar dalam sakitnya yang akhirnya menyebabkan beliau wafat. Maka Ma’qil berkata kepadanya: “Saya akan menceritakan kepadamu sebuah hadits yang saya dengar dari Rasulullah ﷺ. Saya mendengar Nabi ﷺ bersabda: ”Tidak ada seorang pun hamba yang diberi tanggung jawab atas kepemimpinan suatu umat, kemudian ia tidak memberi nasihat yang baik untuk mereka, melainkan ia tidak akan mencium bau surga.”
Hadits ini memberikan peringatan keras bagi siapa saja yang diberikan tanggung jawab dalam memimpin atau mengurusi orang lain, baik itu dalam konteks kepemimpinan dalam keluarga, masyarakat, atau negara. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa tanggung jawab seorang pemimpin terhadap orang yang dipimpinnya tidak hanya terbatas pada hal-hal administratif atau fisik, tetapi juga harus disertai dengan nasihat yang baik dan perhatian yang tulus.